Refleksiku di Hari Guru


Himne Guru [Cipt. Sartono]
Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru

Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku

Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku

Sebagai prasasti terima kasihku

Tuk pengabdianmu

Engkau sebagai pelita dalam kegelapan

Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan

Engkau patriot pahlawan bangsa

Tanpa tanda jasa


Sudah satu bulan lebih aku bergelut dalam dunia keguruan, dan belum sekalipun aku mendapatkan sebuah kebanggaan selama menjadi seorang guru, guru yang katanya bertugas untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa ini. Guru yang katanya memiliki tanggung jawab mendidik anak-anak muda Indonesia menjadi generasi yang berprestasi dan membanggakan bangsa. Guru yang katanya orang jawa “digugu lan ditiru”. Tapi nyatanya aku sebagai guru hanya sebagai seorang yang lugu dan wagu tur guya guyu melulu.

Kata orang dulu, guru itu adalah pahlawan tanpa tanda jasa, akupun sampe sekarang masih terus bertanya “memang yang dimaksud dengan pahlawan tanpa tanda jasa itu seperti apa tho?” apakah karena guru gak dapat tanda jasa seperti pihak militer semacam TNI ato Polisi ? atau pahlawan yang telah gugur di medan perang ? entahlah. Tapi bukannya guru itu mendapatkan gaji untuk kerja kerasnya selama mengabdi untuk pendidikan ? selain itu sekarang yang namanya guru itu ada tunjangan kanan kirinya, entah itu tunjangan keluarga (anak dan istri), tunjangan profesi yang sekarang ini sedang banyak-banyaknya guru yang berlomba-lomba mencari sertifikat dalam rangka sertifikasi guru ya ? tunjangan profesi ini lah yang menjadi kelebihan dari guru yang berpangkatkan PNS, kalau belum PNS memang bisa menjadi guru sertifikasi ? setahuku gak deh. Memang sekarang yang namanya guru PNS adalah idaman semua kalangan, mulai dari orang tua ataupun orang seperti aku yang masih duduk di bangku kuliah. Gimana tidak menjadi idaman semua orang, la wong tunjangannya aja bisa dua atau tiga kalilipat dari gaji pokoknya guru, bahkan aku pernah mendengar cerita dari orang-orang tua, kalau banyak guru yang mendapatkan tunjangan setelah tunjangannya cair langsung deh tu guru mborong motor baru, ada pula yang langsung daftar naek haji meskipun fenomena haji di Indonesia ini haru ngantri 7 hingga 9 tahun lagi untuk bisa berangkat haji.

Nah, itu tadi enaknya jadi guru PNS. Sekarang kita bicara soal guru non-PNS atau guru yang mengabdi pada pendidikan tapi di sekolah swasta. Nasib guru yang satu ini memang sangat jauh berbeda dengan nasib guru PNS, kebanyakan guru non PNS masih sangat kekurangan dalam hal mendapatkan kesejahteraan hidup, meskipun ada gak sedikit sekolah swasta yang memikirkan kesejahteraan gurunya dengan menggaji tidak kalah dari gaji PNS. Tapi masih saja yang namanya guru swasta itu kalah dari guru PNS, kalau PNS setelah pensiun masih mendapatkan gaji pensiunan sedangkan guru swasta tidak. Dan biasanya kalau guru PNS yang mengabdi di sekolah negeri pasti fasilitas mendidik lebih lengkap dibandingkan dengan guru yang mengabdi di sekolah swasta. Tapi meskipun demikian menurutku guru swasta itu lebih hebat dibandingkan dengan guru PNS yang mengabdi di sekolah negeri. Kok bisa ?  bisa dong. Bayangkan kalau guru sekolah negeri itu semua fasilitas sudah terpenuhi dengan adanya banyak bantuan dari pemerintah, sedangkan kalau guru swasta tidak, kecuali kalau yayasan atau lembaga penyelenggara pendidikan swasta tersebut memiliki dana lebih untuk menopang kegiatan pembelajaran di sekolah swasta tersebut, makanya aku bilang kalau guru swasta itu lebih hebat. Dengan segala keterbatasan dalam mendidik generasi bangsa, guru-guru swasta masih rela untuk berjibaku dengan murid-murid yang memiliki banyak karakter dan sifat. Belum lagi dengan keterbatasan sarana dan prasarana di sekolah swasta yang selalu menjadi tantangan bagi guru-guru swasta. Tapi selain itu pasti sebagaian besar dari guru swasta berharap kelak menjadi guru negeri atau PNS yang menjadi cita-cita tersendiri bagi mereka, bagi guru-guru, tentu saja dengan harapan dapat meningkatkan taraf hidupnya.

Selain berkaitan dengan taraf hidup guru yang berbeda-beda antara swasta dan PNS, kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran di kelas atau sekolah kini juga harus mendapatkan banyak porsi perhatian dari semua pihak, termasuk pihak penyelenggara pendidikan atau sekolah (kelapa sekolah) serta pemerintah yang memiliki kebijakan dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia.


SELAMAT HARI GURU BAGI SEMUA GURU DI INDONESIA
JAYALAH SELALU PENDIDIKAN INDONESIA

0 Responses to “Refleksiku di Hari Guru”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: