Dinamika Pinggir Jalan

Ada pedagang asongan,
Ada orang-orang yang sedang menanti bus,
Ada tukan becak yang entah dari kapan sudah ada di situ,
Ada bus dan angkot yang ngetem sambil nungguin penumpang penuh,
Ada keluarga yang baru turun dari bus dengan seorang anak yang mabok sambil muntah-muntah, untung bukan muntah darah tapi ya mengganggu pemandangan juga, moso muntahnya pas disamping dimana aku duduk menanti kedatangan Neng Chica.
Dan masih banyak lagi aktivitas lain yang menyita perhatianku kala itu.
Aku perhatikan seorang bapak-bapak yang baru turun dari bus jurusan Cirebon-Tegal-Pekalongan-Semarang itu, sepertinya sang bapak bingung, tapi aku pun gak tau entah bapak itu bingung kenapa. Setelah aku amati beberapa menit aku mengira bahwa sang bapak itu mungkin mencari-cari bus atau kendaraan yang akan membawanya ke alamat yang dituju. Sang bapak tua itu pun ngobrol atau mungkin lebih tepatnya bertanya kepada seorang bapak yang tengah memarkir motornya sambil ditemani dua putranya itu. Entah sang bapak tua itu bertanya apa aku tidak tau. Setelah bercakap sebentar dengan bapak pengendara motor itu sang bapak tua pun kembali menampakkan raut muka kebingungan, tapi lagi-lagi aku gak tau apa yang dibingungkan oleh sang bapak tau itu, mungkin sang bapak sedang menanti bus yang satu jurusan dengannya atau mungkin sedang menanti jemputan dari anak-anaknya.
Sementara itu disebelahku sekitar berjarak 5 meter dari tempat aku duduk, bapak tukang becak membenahi becakknya. Atap penutup becak direntangkan untuk menutupi tempat duduk becak sang tukan becak, dan kemudia bapak tukang becak itu pun merebahkan diri di dalam becaknya dengan harapan ada penumpang yang datang untuk menggunakan jasanya itu.

Padanganpun aku alihkan ke seberang jalan ke sebuah warung makan yang tampak sepi dari pengunjung. Aku gak melihat satupun ada orang yang singgah di warung itu, sedangkan empunya warung pun aku tak nampak batang hidungnya. Mungkin sang empunya sedang beristirahat di dalam warungnya sambil menunggu pelangga/pembeli datang untuk membeli makanan dari warungnya.
Dari jauh terdapat sebuah pos polisi yang juga terlihat lengah, aku perhatikan dari ketika perjalan pulang ke rumah orang tua kemaren, tampaknya di pinggir jalan tidak ada satupun polisi yang berkeliaran untuk mengatur lalulintas jalan. Mungkin mereka semua lagi pada libur untuk merayakan idul Adha dan menikmati sate dari hasil pengurbanan hewan di tempat tinggal masing-masing.
Sudah hampir setengah jam aku menanti kedatangan Neng Chica, namun cewek yang satu ini belum juga tampak kedua dau telinganya, akhirnya aku lanjutkan kembali pengamatanku terhadap sekitar tempat aku duduk. Di depanku berbaris kendaraan yang sedang menanti lampu hijau di perempatan itu menyala, ada truk, mobil sedan, sepeda motor beserta pengendaranya dan juga bus-bus kota yang sembari pengemudi dan kondekturnya mengamati apakan ada penumpang yang akan menaiki busnya itu. Sedangkan di jalan sebelahnya berlalu-lalang kendaraan yang melaju dengan kecepatan rendah, karena siang itu meskipun jalanan tidak terlalu padat seperti biasanya dan mungkin juga masih terbawa suasana idul adha, jadi mungkin masih banyak pengguna jalan yang sedang menikmati daging hewan kurban di rumah masing-masing dengan keluarganya sambil bercengkerama bercandaria bergembira.
Apakah seperti itu dinamikan pinggir jalan yang sering terjadi, mungkin masih terlalu banyak kisah yang belum aku ketahui dari pinggir jalan itu dan tentu saja jalanan-jalanan di tempat lainnya.

0 Responses to “Dinamika Pinggir Jalan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: