Hari Pertama

Ada yang berbeda hari ini, ya hari ini adalah hari pertama kalinya aku kerja sebagai seorang guru di salah satu SMK swasta di semarang yang terletak di kecamatan Gayamsari, namanya SMK Perdana. Memang cukup jauh dari tempat kosku, ya sekitar setengah jam perjalanan tanpa hambatandari kos ke sekolahan. Makanya hari ini/tadi pagi aku harus bangun pagi kira-kira jam 5 kurang dikit banget, meskipun tadi malam tidur jam 12 lewat beberapa detik (mungkin lebih tepatnya menit). Enaknya jadi mahasiswa harus bisa bangun siang, tapi sayang sholat subuh jadi ketinggalan, nah sekarang karena aku sudah diberikan tanggung jawab buat ngajar, so pasti harus bangun pagi terus langsung mandi kayak dalam lagu ”bangun tidur ku terus mandi, tidak lupa menggosok gigi, habis mandi sholat subuh”. Karena gak biasa mandi pagi-pagi buta (disebut buta mungkin karena masih gelap), rasanya males juga ya, dingin-dingin harus mandi pake air dingin pula, jadi tambah menggigil ne badan. 
Mandi pagi selesai, meskipun pas proses mandinya dingin bukan main, tapi setelahnya rasanya badan jadi seger buger deh, rasa kantuk dan malas pun akhirnya tersapu oleh air yang aku siramkan ke badan dan menetes, mengalir ke selokan kamar mandi beserta rasa malas dan kantuk yang masih menghinggap di pelupuk mata. 
Sudah mandi, sudah ambil wudhu, sholat juga sudah, langsung deh siap-siap, manasin montor pake kompor tetangga sebelah kos, tapi katanya kompornya lagi meleduk jadi akhirnya manasin motornya pake hitter, aku heran kenapa disini disebut hitter, padahal kan pemanas air, kalau dulu waktu SMA di asramku disebut hotter (pemanas air), sedangkan kalau hitter moso’ asal katanya dari hit (memukul), perasaan proses pemanasannya gak dipukul-pukul ato ditonjok-tonjok. Tapi ok-lah, gak masalah yang penting motor sudah dipanasin, sambil nonton tipi ku tata buku-buku dan laptop hasil pinjaman yang rencananya aku gunakan buat presntasi perkenalan. 
Ok, semua sudah siap, sekarang waktu menunjukkan pukul 5.45 WIB, karena saya idup di indonesia bagian barat, ini menunjukkan aku harus segara berangkat ke sekolah karena hari ini hari pertama aku mengajar di sekolah ini, maka aku gak pengen telat setengah detik pun.  Aku starter sepeda motor tahun 97 pemberian dari orang tuaku beberapa tahun, sambil berpacu dengan waktu yang gak pernah mengalah dengan manusia. Dengan kecepatan 40-60 KM/jam motorku melaju di antara pengendara motor dan mobil dengan kondisi jalanan yang masih sepi, karena mungkin aku berangkat terlalu pagi, selain itu aku juga gak pengen terlambat datang kerja. Karena bensin di motorku sudah menipis, jadi tidak lupa aku berhenti di SPBU untuk mengisi ulah bensin motorku. Setelah terisi bensin 10ribu, kembali aku pacu sepeda motorku mengejar waktu dengan kecepatan yang masih sama, maklum aku naek motor petualang bukan motor balap jadi ya kecepatannya kecepatan petualang (padahal gak berani ngebut). 
Baru kali ini aku harus keluar pagi dan melewati tengah kota untuk menuju ke tempat kerja, jadi baru kali ini pula aku tau kondisi jalan pagi di kota ini. Ternyata, kalau tadi setelah keluar beberapa kilometer dari kos jalan masih lengah, sekarang di tengah-tengah kota jalanan sudah rame bahkan saking asingnya aku dengan jalan pagi ini, aku sampe gak tau kalau jalan yang akan aku lalui itu kalau dari perempatan lurus terus itu forboden aliasn dilarang melintasi, jadi aku harus ”ke kiri jalan terus”, karena aku gak tau dilarang padahal di dapan ada tanda forboden, maka aku berhenti untuk menunggu lampu merah berubah menjadi hijau, di tengah penantian lampu hijau ada mobil Jazz merah membara berhenti di sampingku dan melongoklah si supir mobil merah itu dan bertanya, 
”Mas, (suaranya cowok neh pasti bukan cewek, ah sebenernya ada rasa kecewa juga kenapa yang tanya bukan cewek saja, tapi ya sudahlah, belum beruntung coba sekali lagi) kalau ke masjid agung (aku pikir masjid agung Jateng) ke arah mana ya?”
Sambil menunggu lampu merah berubah menjadi hijau aku jawab pertanyaan dari sang supir mobil merah itu, 
”lurus terus aja mas, nanti kalau ada lottemart, kalau gak salah, masnya belok ke kiri”
Terus si supir mobil merah itu berucap, 
”bukannya kalau lurus forboden ya?” 
Disini aku baru nyadar, ternyata kalau pagi hari jalan ini ditutup jadi harus ”ke kiri jalan terus”, tapi karena aku terjanjur berhenti maka aku harus menunggu lampu merah berubah menjadi hijau. Dan, waktu lampu merah berubah menjadi hijau aku langsung belok kiri dan alhasil ada polisi yang ngejar aku, dan ditengah jalan aku diminta menepi ke kiri, akhirnya dengan rasa rada bingung dan bertanya-tanya ”kenapa kok aku diberhentikan, apa aku salah jalan?”, jujur aku gak tau tentang aturan kalau ada tulisan ”ke kiri jalan terus” pagi itu aku gak boleh berhenti dulu menunggu lampu hijau. 
Sang pak polisi pun menyapa dengan sapaan khasnya, 
”selamat pagi pak, tau salahnya apa ?”
Karena dengan polos hati dan rasa tidak tauku, maka aku jawab jujur saja, 
”maaf pak, saya gak tau salah saya apa, memang gwe salah apa sama loe pak?”
Pak polisi dengan sepeda motor matic itupun menjawab ketidak tauhanku
”bapak kalau mau belok ke kiri gak usah berhenti, langsung aja jalan terus”
Karena dasarnya aku tidak tahu maka aku jawab, 
”maaf pak, saya bener-bener gak tau, karena ini hari pertama saya pagi-pagi begini melewati jalan ini, kalau malam atau siang saya sudah pernah”
Tapi dasar pak polisi, pengennya tau aja surat-surat motorku, akhirnya dimintalah STNK dan SIMku sama polisi itu dan aku diajak menyapa pos polisi di perempatan lampu merah tempat aku berhenti tadi. Di pos polisi itu lagi-lagi aku ditanya hal yang sama, salahku apa, dan karena aku memang bener-bener tidak tau maka aku jawab dan menjelasakan kalau saya gak tau tentang aturan jalan ini di pagi hari, dan aku juga menjelaskan kalau ini hari pertama saya kerja, dan saya tidak ingin terlambat, kalaupun harus ditilang saya pengen pak polisi itu menulis dengan cepat dan jangan coba-coba menawari saya untuk berdamai di tempat, karena aku paling gak senang diminta berdamai ditempat (ditilang ditempat), karena aku lebih seneng duit tilangku aku bayarkan ke pengadilan dari pada ke pak polisi (maaf pak saya harus jujur). Tapi dasar polisi indonesia sudah terkenal di negara ini seperti itu adanya, akhirnya apa yang saya tebak muncul juga, kata pak polisi itu setelah mendengarkan penjelasan saya, 
”ya sudah, mau sidang apa disidang disini (maksudnya bayar ditempat)”
Karena aku gak suka disidang ditempat, dan selain itu aku juga punya duit hanya 40ribu dan 27ribu mau buat bayar uang listrik kos, dan sisanya buat beli makan, maka aku bilang, 
”sidang aja pak, tapi tolong cepetan ya pak nulisnya, karena ini hari pertama saya kerja, dan saya gak pengen telat datang ke tempat kerja saya”
Eh, malah si pak polisi tanya, kerja dimana, maka aku jawab kalau aku kerja di SMK Perdana, dan ini adalah hari pertama saya kerja dan saya gak mau telat datang ke sekolahan (perasaan tadi sebelumnya aku juga sudah menjelaskan hal itu ya?). Disinilah kemurahan hati Allah lewat pak polisi itu ditunjukkan ke aku, pak polisi itu bilang.
”ya sudah, kali ini saya bantu, tapi besok lagi jangan diulangi lagi ya”
Jujur aku kaget, aku pikir aku bakalan ditilang dan harus menjalani sidang tilang tanggal 11 November besok. Mungkin karena kejujuran atau kepolosanku menjelaskan kondisi dan ketidak tahuanku pagi itu maka pak polisi yang tadinya pengen nilang saya akhirnya gak jadi nilang aku, dan akupun bisa melanjutkan perjalan pagi itu hingga aku nyampe di sekolahan.
Jam pertama, kedua aku masuk ke kelas 1 MRB (multimedia reguler B) atau kelas X, hari pertama tentu saja perkenalan, aku perkenalkan diriku dengan slide yang sudah aku siapkan tadi malam. Perkenalan berjalan dengan lancar hingga aku masuk ke materi pelajaran sedikit setelah aku ngobrol-ngobrol dengan murid-muridku itu tentang proses pembelajaran yang sudah-sudah dan mereka pengenya ketika aku bersama mereka gimana. Setelah semua sepakat maka deal-lah seperti apa pembelajaran yang mereka inginkan. Hal yang sama terjadi di kelas 1 MU (multimedia unggulan). 
Tapi hal berbeda terjadi di kelas 2 MU A dan B, karena sebenarnya aku gak dapet jatah ngajar di kelas 2, dan juga karena pagi itu guru yang bersangkutan berhalangan masuk, maka ibu kepala sekolah meminta saya untuk masuk dan menemani anak-anak kelas 2 itu mengerjakan tugas yang sudah diberikan. Proses menemani temen-temen baruku ini pun berjalan lancar, diawali dengan perkenalan, lalu memberikan penjelasan sedikit kenapa aku ada di kelas ini meskipun seharusnya aku tidak masuk ke kelas ini dan bisa istirahat lalu mereka aku beri kesempatan mengerjakan tugas mereka. Setelah tugas dikerjakan selsai dan dikumpulkan di atas meja tempat dudukku, maka aku memberikan penjelasan sedikit tentang materi yang ditugaskan ke mereka pagi itu, materinya masih seputar power point untungnya jadi aku masih menguasai, dibandingkan materi berikutnya tentang database MS Acces yang aku lupa materianya meskipun dulu pernah aku belajar hal ini saat kuliah di semester 6. 
ini baru namanya kerja, capek, lelah, suara hampir habis, gak sempet makan tapi itu semua nikmat, alhamdulillah ya, aku bisa menikmati ini semua

0 Responses to “Hari Pertama”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: