Aku terlahir untuk menulis

Aku baru menyadari kalau aku ini memang dilahirkan untuk menulis. Bahkan sebelum aku mengenal apa yang aku tulis aku sudah belajar bagaimana cara menulis dengan cara mencorat-coret lantai dan juga tembok rumah. Kemudian umurku pun semakin bertambah orang tuaku memberikan beberapa helai kertas yang tertata rapi dan terjilid menjadi sebuah buku untuk aku corat-coret, iya untuk aku corat-coret bukan untuk aku menulis. Akupun diperkenalkan dengan huruf dan angka agar aku bisa merangkai kata dan mulai menggoreskan tinta emasku dalam buku itu. Huruf demi huruf aku rangkai menjadi kata, kata demi kata pun terangkai menjadi kalimat, kalimat pun makin banyak kini menjadi sebuah paragraf dalam tulisan. Dan akhirnya paragraf itu pun menjadi sebuah tulisan yang dapat dibaca.

Semenjak lulus dari sekolah dasar aku telah diperkenalkan oleh hidup ini dengan yang namanya buku catatan kehidupan, atau yang lebih beken disebut buku harian ataupun buku diary. Meskipun buku diary identik dengan cewek tapi aku sudah memulai menuliskan semua pengalaman hidup ini ke dalam buku-buku yang kini tertata tidak rapi di lemari buku di rumah. Ketika memulai menuliskan itu semua aku berpikir mungkin pengalaman hidupku akan menjadi hal yang lucu, wagu bila suatu saat nanti aku sudah tua dan tak mampu menuliskanya lagi ke dalam buku-buku itu. Bahkan sampai sekarangpun aku masih menuliskan semua pengalaman hidup ini ke dalam sebuah buku yang telah lama aku milik, meskipun tidak sesering dulu sebelum mengenal yang namanya blog.
Era teknologi informasi seperti sekarang ini banyak mempengaruhi pola dan jenis tulisankua, kini aku tidak lagi menuliskan semua sejarah hidup ini ke dalam buku,  karena sekarang sudah ada yang namanya blog. Jauh sebelum banyak orang terkenal yang menulis blog dan membukukannya kemudian di perjual belikan di toko-toko buku. Aku sudah terlebih dahulu menulis dan mengenal yang namanya blog, meskipun saat itu belum beken yang namanya blog seperti sekarang. Tapi ketika itu aku tidak terlalu konsep kepada blog. Kemudian aku masuk universitas dan disinilah aku beralih dari buku harian menuju blog.

Meskipun aku dilahirkan untuk menulis, tapi aku tidak memiliki bakat untuk menulis dengan tinta, dari kecil tulis tanganku selalu berubah bentuk dan semakin hari semakin tidak dapat terbaca. Kadang aku berpikir, mungkin kah aku dilahirkan bukan untuk menulis tapi untuk menjadi dokter. Karena setiap kali berobat ke doket dan diberikan resep obat aku tidak dapat membaca tulisan si dokter itu. Aku pikir mungkin tulisan si dokter terlalu bagus atau mungkin juga si dokter tersebut terlalu pintar  sehingga aku tidak dapat membaca tulisan yang diberikan ke aku itu.


Aku pun putus asa dengan hasil karya tanganku yang hampir mirip dengan cakaran ayam yang mengais-ais di tanah mencari makan. Tapi itu semua dulu kala, sebelum aku mengenal yang namanya komputer, komputer memiliki sebuah benda yang disebut keyboard yang gunanya untuk mengetik. Disinilah mungkin yang namanya kelebihan itu berasal dari kekurangan, kekuranganku dalam hal tulisan tangan melalui kesempatan lain dapat memberikan kelebihan yang luar biasa karena aku dapat menggerakan jari-jemariku untuk menekan tombol-tombol keyboard sehingga menghasilkan tulisan-tulisan.
Meskipun aku dilahirkan untuk menulis tapi aku mungkin juga tidak dilahirkan untuk menulis secara ilmiah. Lihat saja tulisan-tulisanku apakah ada yang bersifat ilmiah, semua hanyalh tulisan yang berasal dari perut yang sudah tidak muat untuk menampung segala keluhan di dalamnya. Dalam hal ilmia semacam karya ilmiah ataupun yang laennya seperti skripsi yang sedang aku kerjakan sekarang ini bukan lah salah satu kelebihan yang aku miliki. Apa mungkin jari-jemariku ini tidak mampu untuk merangkai huruf demi huru untuk menjadi kata-kata yang kemudian menjadi kalimat, paragraf dan menjadi tulisan yang disebut skripsi itu. Tapi aku masih percaya kalau dari kekurangan itu aku bisa mendapatkan kelibihan lain seperti kasus tangankku yang tidak mampu untuk menulis indah dengan pena tapi aku dapat mengetik dengan lancar dengan jari-jemariku yang hampir setiap hari bergoyang di atas tombol keyboard.

Ada sebuah kata bijak yang mengungkapkan “ikatlah ilmu dengan menuliskannya” dengan artian kalau ilmu itu tidak dituliskan pasti akan hilang. Lihatlah sejarah dunia ini, tulisan merupakan sebuah pertanda dimana kehidupan disebut sebagi jaman bersejarah, bukan lagi jaman prasejarah. Dan telah terlalu banyak ilmu ataupun sejarah yang dituliskan oleh orang-orang agar kita yang berada dimasa depan mengerti bagaimana mereka hidup. So tuliskan hidupmu kawan, agar hidup ini tidak pergi begitu saja

1 Response to “Aku terlahir untuk menulis”



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: