Mengabdi untuk Pendidikan

Pengabdian itu harus ikhlas tanpa pamrih, tanpa upah, bukannya begitu ? 
Entah dari mana aku dapat kata-kata seperti ini “Pendidikan adalah pengabdianku, bukan penghasilanku”, kata-kata itu aku dapet entah dari mana, tiba-tiba muncul begitu saja dari benakku waktu lagi makan mie godog kalau gak salah di salah satu warung langganan mie godong dan nasi ruwet di sekitar kampus unnes ini. Tapi setelah Aku setelah aku pikir-pikir itu kalimat kok keren juga ya ? pendidikan adalah pengabdianku, ya aku juga dari kecil sudah mendapatkan pendidikan dari orang tua, sekolah di SD yang kemudian dilanjutkan ke MTs dan MA di Pondok Pabelan  Magelang, setelah itu lulus dari Pondok aku ngelanjutkan ke Unviersitas aku juga masuk di fakultas ilmu pendidikan dari pengalaman idup yang sudah 23 tahun lebih beberapa bulan ini aku jadi punya perasaan yang laen soal pendidikan. Aku dulu gak pernah kepikiran akan jatuh cinta pada dunia pendidikan, tapi setelah kuliah aku jadi punya perasaan yang kritis akan realitas pendidikan di Indonesia yang masih memprihatinkan banget. Terutama soal pendidikan bagi semua (education for all), tapi sekarang yang menajadi pertanyaanku itu adalah pendidikan bagi siapa ? yang ada sekarang ini pendidikan adalah bagi mereka yang memiliki duit, memiliki jabatan dan memiliki prestasi, kepandaian bukan bagi mereka yang tidak beruntung seperti orang-orang yang tidak mampu atau para penguasa bilang orang miskin, bagi mereka yang katanya bodoh, goblok. 
Kalaupun ada pendidikan bagi mereka yang katanya “miskin, goblok, bodoh” adalah pendidikan yang menurutku tidak pantas. Ya tidak pantas karena mereka mendapatkan pendidikan yang sangat minimalis seminimal hidup mereka. Aku sangat bersyukur kepada Tuhan karena aku bisa berpendidikan hingga kuliah, tidak seperti saudara-saudaraku yang tidak punya kesempatan emas sepertiku ini. Coba kita lihat pendidikan di desa-desa atau di kota-kota, gedung sekolah yang berdiri megah dengan dikelilingi pagar tinggi dan gerbang yang menjulang itu hanya diisi oleh anak-anak orang kaya, anak-anak pintar yang mendapatkan beasiswa, bukan diisi oleh anak orang “miskin” ataupun anak-anak yang “bodoh” kan ?. 
Apa masih ada seh di dunia ini strata dalam dunia pendidikan seperti jaman kolonia Belanda dulu ? 
Yang punya jabatan yang dapat pendidikan di sekolah
Yang punya duit yang bisa sekolah
Yang pinter yang dapet beasiswa untuk sekolah 
Sedangkan yang “bodoh, miskin” tidak pernah mengenyam pendidikan di sekolah, 
Terus muncul pertanyaan lagi, kenapa harus mendapatkan pendidikan di sekolah ? 
Tentu saja jawabanya karena ijazah, 
Kenapa harus ijazah, 
Pasti jawabannya karena untuk mendapatkan kerja harus dengan ijazah, 
Nah, ini dia yang harus dihilangkan dari semua pikiran bangsa Indonesia, ijazah,
Kalau gak bisa kerja gara-gara gak punya ijazah, ya udah gak perlu dipikirin, toh pekerjaan itu gak harus didapatkan tapi kan bisa dibuat sendiri, kenapa gak kita sendiri yang membuat pekerjaan itu, dari pada jadi karyawan orang lain, kan lebih baek jadi bos dari karyawan kita sendiri.
Oh ya, kembali ke pengabdian tadi, aku sangat mengapresiasi siapa pun yang menagbdikan diri kepada dunia pendidikan tanpa harus menadang adanya imbalan. Sebenernya banyak kok orang-orang di Indonesia yang mengabdikan diri kepada pendidikan tanpa pamrih, dan semoga makin banyak dilain kesempatan. Akupun ingin mengabdikan diri kepada pendidikan, aku berdoa, semoga besok aku tua tapi aku masih nakal seperti sekarang, maksudnya aku memiliki sikap dan pikiran kritis ini (gak ilang ditelan waktu pikiran kritisku), amin.
Memang seh, yang namanya ngabdi itu harus ikhlas tanpa batas, gak boleh sedikitpun berharap ada orang  atau pihak yang akan memberi kita upah. Dan yang pasti banyak banget tantangan yang harus dihadapi kita terutama dari dalam diri kita dan luar diri kita seperti keluarga, teman, tetangga dan lingkunagan dimana kita hidup. Tapi pengabdian itu sebenernya sangat mulai sekali, mulia kalau niatnya bener, tapi ada juga kan orang yang ngabdi hanya untuk mendapatkan jabatan, atau upah kembali. Nah kalau yang kayak gitu mah mending mati aja kelaut sana. 
Semoga makin banyak yang rela mengabdi kepada pendidikan di Indonesia khususnya tanpa pandang bulu dan mengharapkan imbalan. Dan semoga orang-orang yang telah dan sedang mengabdikan diri kepada pendidikan diberikan kekuatan untuk tetap istiqomah menjalankan niat baiknya dan diberikan kemudahan dalam menyelesaikan semua problem pendidikan yang dihadapi, serta makin banyak orang-orang yang tergerak hatinya untuk mengabdikan diri mereka ke dunia pendidikan, amin. Dan akhirnya semoga pendidikan  Indonesia semakin baik agar Indonesia tidak tertinggal lagi dari negara lain, serta anak cucu kita kelak tidak mengalami apa yang kita alami.

0 Responses to “Mengabdi untuk Pendidikan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: