No Child Left Behind

Lagi asik nulis tugas akhir semester Perencanaan Pendidikan sambil baca-baca buku “Pendidikan Untuk Masyarakat Indonesia Baru”, pada halaman 105 aku menemukan sebuah tulisan yang membuat aku tertarik untuk tetep melanjutkan membaca buku ini. Sebuah tulisan yang diambil dari kata-kata manta presiden Amerika yaitu George Bush Junior saat dia masih menjabat sebagai presiden Amerika. 
Itu adalah kata-kata yang aku temukan dalam buku “Pendidikan Untuk Masyarakat Indonesia Baru” yang bukunya didedikasikan untuk 70 tahun Prof. Dr. H.A.R. Tilaar, M.Sc.Ed. Masih dalam lanjutan halaman 105 yang aku baca ini,  Bush menawarkan bebrapa kebijakan untuk pendidikan Amerika kala itu yang imbasnya bisa kita kenali sekarang.
Kebijakan pertama adalah upaya menghilangkan kesenjangan prestasi belajar antar anak yang beruntung dan anak yang kurang bahkan tidak beruntung dalam arti social-ekonomi, kultur. Kalau kita lihat dengan kondisi Negara kita ini. Hal ini sangat relevan dengan persoalan pendidikan yang tengah dihadapi oleh Indonesia. Masih banyak anak-anak kurang beruntung bahkan tidak beruntung seperti yang disebutkan di atas yang belum atau bahkan tidak dapat mengenyam pendidikan. 
Dan yang sering aku prihatinkan adalah adanya ujian masuk dalam penerimaan peserta didik baru pada setiap tahun ajaranya seperti yang terjadi sekarang ini pada tahun ajaran baru 2011-2012 ini pasti akan banyak ditemukan terjadinya ujian masuk yang pada akhirnya tidak memberikan kesempatan kepada calon peserta didik yang kurang pintar atau cerdas untuk masuk ke sekolah favorit dan yang katanya memiliki mutu sekolahan yang tinggi disbanding dengan sekolah lain. Kenapa harus ada ujian seleksi masuk sekolah/perguruan tinggi ? aku masih ingat perkataan Almarhum Kyai Hamam Ja’far untuk semua masyarakat Pondok Pesantren Pabelan “di Pondok Pabelan tidak ada ujian seleksi masuk”, yang menurut keterangan dari putra beliau Babeh Ahmad Najib adalah mempunyai maksud memberikan kesempatan kepada siapapun untuk mendapatkan pendidikan yang sepantasnya di tempat yang mereka inginkan, kalaupun ada tes ujian masuk itu hanya untuk mengetahui seberapa tingkat kemampuan yang telah dimiliki oleh calon peserta didik agar nanti setelah dimulainya proses pendidikan di pesantren, tenaga pendidikan (Ustad-ustadzah) mengerti dan paham akan kemampuan masing-masing peserta didik yang mereka ampu. 
Sementara itu, kebijakan kedua yang diungkapkan Bush adalah Pemberdayaan keluarga dengan cara menyediakan berbagai pilihan dalam menentukan pendidikan bagi anak-anaknya. Yang dalam konteks ini pemerintah Bush juga memberikan kemudahan bagi keluarga dalam memperoleh dana pendidikan yang bebas pajak untuk membiayai anak mereka sejak taman kanak-kanak (sekarang lebih terkenal dengan PAUD), hingga perguruan tinggi. 
Kebijakan ketiga adalah meningkatkan fleksibelitas dan mengurangi birokrasi dalam dunia pendidikan. Regulasi semakin dikurangi di berbagi jenjang pendidikan agar pendidikan lebih mengutamakan kreativitas masyarakat dalam memecahkan berbagi persoalan yang dihadapinya. Disamping itu birokrasi dalam pemanfaatan dana pemerintah federal juga semakin dihilangkan agar tercipta efektifitas dan efisiensi dalam dunia pendidikan. [nah ini dia, birokrasi di Indonesia malah menjadikan pendidikan sebagai lahan baru dalam arena politik, pendidikan kini telah menjadi sebuah benda untuk dipertaruhkan dalam meja judi perpolitikan Indonesia, meskipun pada hakekatnya pendidikan itu adalah lahan sendiri yang tidak boleh dah menurutku haram untuk dicampur aduk dengan lahan politik dimanapun itu]
Dan kebijakan keempat adalah, mendorong peningkatan dalam bidang-bidang yang menentukan kualitas pendidikan Amerika. Hal ini dilakukan dalam bidang-bidang seperti peningkatan kemampuan membaca, matematika, sains, peningkatan kualitas guru, peningkatan keselamatan lingkungan sekolah, dan penggunaan teknologi. 
Itulah sedikit tulisan yang aku baca dari buku “Pendidikan Untuk Masyarakat Indonesia Baru”. Sebernarnya masih banyak tulisan yang belum aku baca dalam buku ini, maklum bacanya sambil ngegarap tugas akhir semester jadi harus tetep focus ke ngetik tugasnya. Tapi setidaknya apa yang aku baca ini dapat memberikan aku pengetahuan akan kebenaran pendidikan bangsa ini yang sedang dialami. Dan dari hasil aku membaca ini bisa aku sharing melalui blog ini agar semua yang prihatin dengan pendidikan Indonesia tau bahwa mereka tidak sendiri, karena aku juga gundah gulana akan pendidikan negaraku ini. 
Tapi kembali lagi kepada asalnya aku berada, aku ini bukan siapa-siapa, aku tidak mempunyai kekuasaan untuk memberikan regulasi berkenaan pendidikan, aku hanya bisa memberikan bantuan berupa tulisan-tulisanku ini, semoga aja ada birokrat yang berkenan untuk membaca tulisan ini dan terketuk hatinya untuk lebih perduli kepada pendidikan di Indonesia, karena pendidikan itu bukan hanya untuk hari ini, bukan hanya untuk aku, untuk anda, tapi juga untuk anak cucu kita kelak yang akan menggantikan kedudukan aku dan anda dalam kehidupan ini. Pastinya kita menginginkan kondisi pendidikan bangsa ini ketika anak cucu kita nanti telah ada adalah pendidikan yang telah berubah lebih baik dari kondisi pendidikan sekarang ini. 
MAJU PENDIDIKAN INDONESIA !!
Meskipun bukan untuk kita, tapi untuk anak cucu kita kelak

0 Responses to “No Child Left Behind”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: