Merdeka Tapi Ngawur


Bulan Agustus identik dengan kemerdekaan. Kemerdekaan Indonesia. Tidak banyak yang menyoal daerah mana saja yang juga merdeka di tahun 1945. Apalagi sampai berpikir hakekat kemerdekaan itu sendiri. Maka di tengah kesulitan hidup, hari-hari ini di seluruh kampung di Nusantara tetap saja meriah. Ramai-ramai merayakan hari kemerdekaan. Pasang umbul-umbul dan pesta suka-ria.

Bicara kemerdekaan Indonesia, yang terpampang selalu heroisme. Kepahlawanan. Semangat pantang mundur, tidak kenal menyerah, dan rawe-rawe rantas malang-malang putung. Itu ideologi yang tidak boleh pupus. Soalnya berkat itu, konon, hanya dengan bambu runcing, Belanda, Jepang dan Inggris dapat diusir.

Jangan tanya jumlah rakyat gugur yang ditaksir 16 ribu jiwa di Surabaya saja. Atau korban ‘gerbong maut’ di Situbondo yang mirip pembantaian Yahudi di Jerman. Juga korban bertumbangan di Aceh maupun Padang serta wilayah lain di tanah air.

Secara visual, kegigihan dan ‘kengawuran’ rakyat Indonesia itu bisa dilihat dari lukisan almarhum Sochieb. Betapa meriam dan senapan para penjajah itu tidak berguna menghadapi lautan manusia. Mereka siap menukar nyawa dengan cita-cita luhur bangsa ini, dengan semboyan baku ‘merdeka atau mati!’

Namun benarkah kita pernah punya semangat yang mampu mengubah haikal menjadi petir dan menjadikan santri-santri bertubuh kebal tidak mempan mortir?

Sang pelukis ketika masih hidup pernah saya tanya, apa benar begitu adegan perang di detik yang monumental itu Cak? Rakyat seperti air bah, menyongsong meriam dan senapan, dan ditembak malah lakak-lakak? Ditembak tak mati, tapi tertawa terbahak-bahak? Jawabnya : “Wah yo embuh jok, jarene koyok ngono, yo tak gambar karo tak tambah-tambahi (wah ya nggak tahu Jok, katanya sih seperti itu, ya kugambar dan kutambah-tambahi) biar kelihatan lebih seram.”

Jawaban yang meragukan itu semakin tidak jelas juntrungnya, tatkala almarhum Gatut Kusumo, salah satu petinggi Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) dengan gaya blokosutonya menuturkan, perang melawan sekutu itu tidak bisa disebut perang, karena tentara kita ‘tidak pernah’ perang. “Kita ini diuber-uber sampai ngungsi ke Malang Selatan. Jangan lagi kita nembak musuh. Lihat musuh datang saja dengkul ini sudah kothekan (kaki gemetaran),” katanya.

Terus korban jiwa puluhan ribu itu akibat apa? Penyobekan bendera Belanda di Hotel Orange (sekarang Hotel Majapahit) adakah bukan nyata? Dan matinya Jenderal Mallaby di Jembatan Merah adakah tidak pernah terjadi?

DR Ruslan Abdulgani (almarhum juga), dengan gamblang mengatakan, bahwa korban jiwa rakyat Surabaya memang benar adanya. Itu akibat bombardir sekutu. Penyobekan bendera Belanda memang terjadi dan tidak diketahui siapa pelakunya. Juga terbunuhnya Jenderal Mallaby. Yang terakhir ini malah disebutnya sebagai ‘kecelakaan’.

Ya kecelakaan. Kala itu lagi dilakukan perundingan di Gedung Internatio. Dua pihak melakukan gencatan senjata, merumuskan keinginan sekutu untuk menempatkan negeri ini kembali sebagai daerah jajahan.

Di tengah kegayengan berunding, tiba-tiba dari belakang Gedung Internatio, datang sekumpulan ‘tretan dzibik’ (teman-teman dari etnis Madura). Mereka membawa bendera merah putih yang merahnya diambil dari darah, bergelombang membuat kerusuhan di depan gedung ini.

Tentara sekutu yang menjaga perundingan itu akhirnya melepas tembakan. Ini yang menyulut kegaduhan. Mereka semburat sambil berteriak ‘Allahu Akbar’. Suasana kian riuh tatkala tembakan dari lantai atas itu kian gencar.

Ruslan Abdulgani, salahsatu saksi sejarah, melihat perang berkecamuk lagi, bersembunyi di sebuah lubang dekat sungai. Jaraknya tidak sampai 100 meter dari Jenderal Mallaby yang berdiri garang dekat mobil yang ditumpanginya.

Tidak lama setelah itu terdengar bunyi ledakan. Tidak jelas apa yang barusan meledak. Hanya, di tengah suasana tidak terkendali itu, tiba-tiba datang seseorang menghampiri Ruslan Abdulgani. Katanya, “Londone wis tak enteki Cak.” (Belandanya sudah tak bunuh Cak. Yang dimaksud Belanda adalah Mallaby yang jenderal Inggris itu).

Dan betul, di tengah perang yang disebut papa (panggilan akrab Gatut Kusumo) ‘bukan perang’ itu, Inggris yang gagah itu kehilangan seorang jenderal. Kita merdeka karena ‘ngawur’.

Adakah karena sejarah kemerdekaan yang ‘ngawur’ itu hingga negeri yang sudah merdeka ini dijalankan oleh banyak oknum pejabat yang ngawur pula? Korupsi jadi gaya hidup. Dan tipuan jadi jurus andalan ngibuli rakyat?

Keterangan Penulis: Djoko Su’ud Sukahar, pemerhati budaya, tinggal di Jakarta. Alamat e-mail jok5000@yahoo.com.

original site news

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: